JA.com Payakumbuh (Sumatra Barat)--Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi minta semua pihak bergerak untuk mencegah Stunting alias kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun, disebabkan kuranganya gizi kronis dan infeksi berulang.

Ia meminta kepada masyarakat dan stake holder terkait agar bekerja keras mencegah anak Stunting. Karena, pencegahan Stunting ini penting dilakukan.

"Biasanya kalau gizinya kurang kecerdasannya juga kurang. Bagaimana mungkin kita bisa bersaing kalau kecerdasan kurang," katanya, Rabu (8/1) kemarin di Payakumbuh.

Menurutnya, dampak anak stunting, tidak hanya mempengaruhi kecerdasan anak, kepercayaan dirinya juga kurang. Untuk itu ia meminta semua organisasi pemerintah daerah, kader dan masyarakat harus bergerak bersama.

"Kalau ada warga yang hamil dipantau, dan saya harap puskesmas jemput bola, untuk mengawasi terus. Diingatkan untuk rutin periksa," ujarnya.

Tidak sampai disitu saja, ia juga ingatkan para lurah agar memperhatikan makanan terutama untuk warga kurang mampu. Bagi ibu hamil, ia meminta untuk mendapatkan makanan tambahan dari puskesmas.

"Sebetulnya pemberian makanan sudah dilakukan untuk Ibu hamil, bayi dan warga miskin, Namun diharapkan pada tahun ini jumlahnya diperbanyak," pungkasnya.

Sementara itu, Kabid Kesmas dan P3 Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh Hefi Suryani, SKM mengatakan program percepatan pencegahan stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang.

“Kita harus pantau dengan serius mulai dari bayi baru lahir sampai memasuki usia sekolah. Pada saat bayi baru lahir bila ukuran tinggi kurang dari 47 centimeter, kita harus curiga, dan segera didampaingi agar tidak menjadi Stunting,” katanya.

Hefi mengatakan, untuk mencegah anak Stunting dimulai di masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Pasalnya, masa tersebut merupakan  masa kritis, dimana anak balita membutuhkan gizi dan perilaku hidup sehat lingkungan sekitar. Namun, sebelumnya bagi calon pengantin mendapatkan pendampingan dari puskesmas.

“Tetapi terkadang untuk mendampingi ibu hamil, kadang dari suami menolak. Namun, kita terus berusaha. Mudah-mudahan jumlah (stunting) terus menurun,” tutup Hefi. (Farhan)
 
Top