JA.com, Tanah Datar (Sumatra Barat)--Pemkab Tanah Datar sesuai dengan hasil SSGI (Study Status Gizi Indonesia) tahun 2021 angka prevalensi stunting di Tanah Datar  adalah 21,5% dan berdasarkan data dari IPPGM dan perimbangan di puskesmas sebanyak 648 orang anak berusia dibawah dua tahun  stunting dari 380 ribu lebih penduduk Tanah Datar.

Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Richi Aprian pada acara Konsolidasi dengan pemangku kebijakan tingkat daerah (kemitraan) dalam percepatan penurunan stunting  di nagari singgalang kecamatan X Koto, Jumat (28/10/2022), kemarin.

Kegiatan tersebut dalam rangka kerjasama anggota DPR RI komisi IX Darul Siska dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sumatera Barat dalam program percepatan penurunan stunting di Sumbar.

Hadir jiga pada acara tersebut Kepala Perwakilan BKKBN Sumbar Fatmawati, anggota DPRD Dedi Irawan, Kepala Dinas PMDPPKB Nopendril, Sekretaris Camat X Koto Iskandar Sagita, Wali Nagari dan masyarakat setempat.

Wabup Richi Aprian ungkapkan, saat ini di wilayah Kabupaten Tanah Datar terdapat 648 orang anak berusia dibawah dua tahun  stunting. "Stunting ini masalah kita bersama dan harus diselesaikan secara bersama-sama karena ini bukanlah aib, sebab ini sudah permasalahan yang dihadapi Indonesia menuju Indonesia emas 2045," katanya.

Wabup juga sampaikan khususnya di nagari singgalang ini merupakan sentra pangan polawija, ini merupakan salah satu untuk menekan angka stunting dengan memakan makanan yang bergizi dari hasil pertanian sendiri.

“Saya berharap melalui kegiatan ini bisa memberikan pencerahan kepada kita semua terkait dengan kasus stunting yang ada disekitar kita,  semoga pada tahun 2045 nanti bisa kita wujudkan generasi emas dengan fisiknya yang bagus, otaknya mesti cerdas dan imannya mesti kokoh," tutup wabup.

Senada juga disampaikan Anggota DPR RI Komisi IX Darul Siska, komisi IX bermitra dengan bidang kesehatan salah satunya BKKBN saat ini isu yang hangat yaitu stunting yang sangat butuh perhatian kita semua.

Selain dari gizi yang cukup kata Darul Siska, pola asuh juga salah satu penyebab stunting. "Saat ini pola asuh banyak yang diabaikan sebagai contoh orang tua supaya anaknya tenang anaknya dikasih handphone, itu belum waktunya untuk anak usia satu sampai dua tahun," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Sumbar Fatmawati juga mengajak masyarakat untuk memperhatikan  asupan gizi pada anak, jangan lakukan nikah muda/dini.

"Salah satu strategi yang dilakukan melalui percepatan penurunan stunting dengan memperhatikan  asupan gizi anak, jangan lakukan nikah muda/dini, untuk itu diharapkan keseriusan seluruh pihak mendukung kegiatan ini," harapnya. (MG)
 
Top