JA.com, Jakarta--Kementerian Perindustrian fokus melaksanakan langkah-langkah prioritas yang tertuang di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0, salah satunya adalah pemberdayaan industri kecil dan menengah (IKM) melalui pemanfaatan teknologi digital. Upaya ini guna memacu IKM nasional berperan pada penerapan revolusi industri keempat, seperti terlibat di e-commerce yang diimplementasikan dalam e-Smart IKM.

“Untuk itu, kami terus menyelenggarakan workshop e-Smart IKM di berbagai provinsi di Indonesia. Hingga saat ini, program tersebut telah dilaksanakan di 22 provinsi dengan melibatkan stakeholders, antara lain Bank Indonesia, BNI, Google, iDeA, Kementerian Kominfo dan pemerintah daerah,” kata Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih di Jakarta, Rabu (8/8/2018).

Program e-Smart IKM merupakan sistem basis data IKM nasional yang tersaji dalam bentuk profil industri, sentra, dan produk yang diintegrasikan dengan marketplace yang telah ada dengan tujuan untuk semakin meningkatkan akses pasar IKM melalui internet marketing.

Menurut Gati, di tengah tren ekonomi digital yang berkembang pesat, IKM nasional semakin didorong untuk aktif dalam memasarkan produknya melalui perdagangan online. Dalam hal ini, Kemenperin telah bekerja sama dengan marketplace dalam negeri, di antaranya adalah Bukalapak, Tokopedia, Shopee, BliBli, Blanja.com, Ralali, dan Gojek Indonesia.

“Melalui berbagai kerja sama yang telah dilakukan, kami berharap, akan terjadi sinergi dalam pengembangan dan pembinaan IKM yang mengarah pada one stop solution,” ungkapya.Contohnya, kolaborasi dengan Google dalam rangka pengembangan kemampuan IKM dalam pemanfaatan fitur-fitur pada aplikasi Google untuk promosi produk dan pengembangan bisnis online.

Sejak diluncurkan pada 27 Januari 2017 lalu, workshop e-Smart IKM telah diikuti sebanyak 2.900 peserta dan membukukan nilai transaksi online melampaui Rp600 juta. Pada tahun 2018, ditargetkan peserta e-Smart IKM mampu bertambah menjadi 4.000 IKM dari seluruh Indonesia.

“IKM kita harus update dengan teknologi, sesuai program prioritas Making Indonesia 4.0. Untuk itu, Kemenperin berupaya melakukan edukasi pentingnya teknologi digital, manajemen keuangan yang baik, serta produk yang memenuhi standard sebagai implementasi era industri 4.0,” paparnya.

Keuntungan e-commerce bagi IKM
Gati menambahkan, saat ini pelaku IKM harus memiliki keinginan dan tekad yang kuat untuk lebih maju dan berkembang dengan dukungan dari pemerintah melalui program pemanfaatan teknologi digital e-Smart IKM. “Perkembangan teknologi yang sedemikian cepat ini, tentunya mendorong para pelaku IKM untuk mau belajar hal-hal baru dan mau mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari,” jelasnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Deloitte Access Economics, pemanfaatan teknologi digital seperti melalui media sosial, internet broadband, dan e-Commerce akan membuka peluang bagi para pelaku IKM untuk tumbuh dan berkembang. Pemanfaatan teknologi digital tersebut juga memberikan keuntungan terhadap kenaikan pendapatan hingga 80 persen.

“Hal ini merupakan dampak semakin luasnya akses pemasaran para pelaku IKM, yang menjangkau calon pembeli baru melalui dunia maya tidak hanya dalam lingkup lokal, regional, atau nasional saja, namun juga menjangkau calon pembeli dalam lingkup global,” tuturnya.

Keuntungan lainnya dengan penggunaan teknologi digital, lanjut Gati, adalah peluang bagi pelaku IKM untuk membuka kesempatan kerja baru yang dapat meningkat menjadi satu setengah kali. Keuntungan selanjutnya, yakni probabilitas pelaku IKM untuk menjadi inovatif akan meningkat sebanyak 17 kali.

“Kenaikan probabilitas IKM menjadi lebih inovatif ini disebabkan karena potensi kenaikan pendapatan, penambahan sumber daya, dan akses informasi yang nyaris tak terbatas sehingga akan membuka peluang bagi para pelaku IKM mendapatkan ide-ide dan akses teknologi baru untuk mengembangkan usahanya,” papar Dirjen IKM.

Guna mendorong pemanfaatan teknologi terkini bagi pelaku IKM nasional, selain melalui program e-Smart IKM, Kemenperin juga memiliki berbagai program lain seperti restrukturisasi atau memodernisasi mesin dan peralatan produksi, peningkatan kompetensi SDM melalui bimbingan teknis, pendampingan, sampai dengan sertifikasi kompetensi. “IKM perlu membuka diri dan mau terus belajar. Selain itu juga melibatkan generasi muda atau milenial dalam perusahaan sehingga ada semangat baru,” imbuhnya.

Sektor yang Memanfaatkan
Gati menyebutkan, penerapan teknologi terbaru yang sudah dilakukan oleh IKM nasional, antara lain sektor IKM logam dengan memanfaatkan penggunaan teknologi mesin-mesin programmable Computer Numerical Control (CNC) untuk mendukung proses produksinya. Keuntungan yang didapatkan antara lain produk yang dihasilkan lebih presisi dan human error dapat diminimalisir.

“IKM yang sudah memanfaatkan, di antaranya mereka bergerak di bidang pembuatan mold and dies dan pembuatan komponen otomotif, karena produk-produk yang dihasilkan tersebut membutuhkan tingkat presisi yang tinggi,” ungkapnya.

Di samping itu, Ditjen IKM telah memberikan bantuan mesin CNC router kepada IKM kerajinan di Batam, sehingga pelaku IKM hanya tinggal memasukkan desain yang dikehendaki ke dalam mesin dan kemudian mesin tersebut yang bekerja membentuk produk kerajinan sesuai dengan desain yang telah dimasukkan sebelumnya.

Teknologi lainnya yang sudah diterapkan para IKM logam, yakni pembuat pande besi konvensional yang semula menempa logam dengan tenaga manusia, saat ini sudah melalui sentuhan teknologi dengan tenaga motor atau hidrolik (air hammer). “Dengan begitu, kapasitas produksi semakin meningkat dan konsistensi mutu produk juga akan terjaga,” ujar Gati.

Sementara itu, di sektor IKM pakaian jadi, penerapan teknologi dilakukan pada proses produksinya yang menggunakan aplikasi mulai dari pembuatan pola hingga penjualan produk. Pembuatan pola dapat menggunakan aplikasi Optitex yang bertujuan untuk efisiensi proses produksi dan memaksimalkan bahan baku yang akan terpakai. “Sedangkan, untuk sistem penjualan menggunakan aplikasi Raptor Point of Sales System yang telah terkoneksi pada jaringan internet dan terpantau secara real time,” imbuhnya.

Di sektor IKM furnitur, pemanfaatan teknologi diaplikasikan melalui mesin pengeringan kayu dengan menggunakan High Frequency Vacuum Kiln Dry Machine sehingga menjadi lebih cepat proses produksinya. “Apabila dilakukan secara konvensional dapat memakan waktu sampai dua minggu, saat ini bisa dipersingkat menjadi tiga hari dengan tingkat kekeringan yang lebih merata dan menghilangkan risiko bahan baku kayu menjadi terbakar ataupun retak,” jelasnya.

Gati meyakini, sentuhan teknologi pada sarana dan prasarana IKM, khususnya dalam proses produksi akan meningkatkan kapasitas produksi, mengefisienkan penggunaan energi, mengendalikan kualitas produk sehingga konsistensi mutu produk bisa terjamin serta meminimalkan defect dari suatu proses produksi.
 
Top